Berita

Admin 21 May 2026

Langkah Pasti Prodi Sarjana Sains Biomedis FK UM Metro di Panggung Nasional: Merajut Kurikulum, Memperjuangkan STR, hingga Aksi Nyata untuk Masyarakat

JAKARTA & BANDUNG – Ilmu biomedis sering kali diidentikkan dengan dunia laboratorium yang sunyi, deretan mikroskop, dan riset-riset rumit. Namun, bagi Program Studi Sarjana Sains Biomedis Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Metro, ilmu ini adalah jembatan hidup yang harus berdampak nyata baik dalam ruang-ruang kebijakan akademik nasional maupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Semangat bergerak maju inilah yang membawa delegasi FK UM Metro menapakkan kaki di ibu kota untuk menghadiri rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konsorsium Ilmu Biomedis Indonesia (KIBI), disusul aksi kemanusiaan dalam Pengabdian Masyarakat Nasional yang digelar pada 11–12 Mei 2026.

Dalam perhelatan akbar tahunan ini, FK UM Metro mengirimkan representasi terbaiknya. Hadir langsung Ketua Program Studi Sarjana Sains Biomedis, Miftahuz Zakiyah, M.Biomed., didampingi oleh dosen prodi yang sangat pengalaman, Nadya Syarifatul Fajriyah, M.Si., serta Evi Oktariani, Amd.Keb., M.K.M. selaku staf ahli yang mengawal jalannya administrasi dan teknis delegasi. Kehadiran tim ini menjadi bukti nyata bahwa UM Metro tidak pernah absen dalam mengawal arah masa depan pendidikan sains biomedis di Indonesia.

Langkah awal delegasi dimulai pada Senin, 11 Mei 2026, di bawah atap kampus Universitas Yarsi, Jakarta. Ruangan rapat hari itu dipenuhi oleh para pemikir, akademisi, dan pakar biomedis dari seluruh penjuru nusantara. Agenda utama yang diangkat bukanlah hal yang sederhana: mendefinisikan ulang output lulusan dan menajamkan kurikulum Ilmu Biomedis di semua lini, mulai dari strata Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktoral (S3).

Suasana diskusi berjalan begitu dinamis dan penuh energi saat memasuki sesi presentasi per divisi. Setiap jenjang memaparkan tantangan dan peta jalannya masing-masing. Di sinilah sinergi terbangun; bagaimana menyelaraskan kurikulum agar tidak hanya kuat secara teoretis di ruang kelas, tetapi juga adaptif dan lincah merespons kebutuhan industri kesehatan masa depan yang berubah begitu cepat.

Dua sosok sentral hadir memberikan arah dan pandangan strategis. Prof. Dr. rer. nat. Asmarinah, M.S., selaku Ketua KIBI, dengan jernih memaparkan pentingnya konsolidasi dan integrasi keilmuan agar institusi pendidikan biomedis di Indonesia memiliki standar mutu yang seragam dan diakui dunia. Sementara dari sisi regulasi pemerintah, Dr. Beny Bandanadjaja, M.T., Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemendikbudristek, mengupas tuntas tata kelola kurikulum tinggi yang suportif terhadap inovasi mahasiswa.

Satu Momen Krusial: Memperjuangkan Surat Tanda Registrasi (STR) Di antara sekian banyak pembahasan, ada satu topik yang berhasil menyedot perhatian dan memicu diskusi hangat: penekanan mengenai pentingnya Surat Tanda Registrasi (STR) bagi lulusan Sarjana Sains Biomedis. Bagi FK UM Metro, poin ini adalah perjuangan yang sangat krusial. Kejelasan regulasi mengenai STR akan menjadi angin segar sekaligus payung hukum yang kuat bagi para lulusan. Dengan adanya STR, kompetensi lulusan sarjana biomedis kian diakui secara profesional di dunia kerja, membuka pintu yang lebih luas untuk berkarier di laboratorium klinis, pusat riset, maupun tata kelola layanan kesehatan.

Setelah sehari penuh bergulat dengan pemikiran dan konsep kurikulum di Jakarta, keesokan harinya, Selasa, 12 Mei 2026, atmosfer kegiatan berubah total. Rombongan KIBI, termasuk delegasi dari FK UM Metro, bergerak menuju kawasan Kabupaten Bandung Barat. Kali ini, baju laboratorium dan dokumen formal disimpan sejenak, digantikan dengan semangat mengabdi yang hangat.

Berkolaborasi dengan Universitas Islam Bandung (UNISBA), kegiatan Pengabdian Masyarakat Nasional ini menjadi wadah untuk membumikan ilmu pengetahuan. Targetnya jelas dan mendesak: mengedukasi masyarakat akar rumput mengenai dua ancaman kesehatan terbesar di Indonesia yang sering kali terlambat disadari, yaitu Kanker Serviks dan Tuberkulosis (TBC).

Pertemuan dengan warga berlangsung dengan sangat humanis dan penuh kekeluargaan. Tim pengabdi tidak berbicara dengan bahasa medis yang rumit, melainkan dengan pendekatan dialogis yang menyentuh hati. Warga diajak untuk memahami pentingnya deteksi dini (seperti IVA test atau Pap smear) demi mencegah kanker serviks, serta diberikan pemahaman mendalam mengenai pola penularan TBC dan pentingnya kepatuhan minum obat hingga tuntas tanpa putus.

Melalui edukasi ini, FK UM Metro ingin menyampaikan pesan kuat kepada masyarakat bahwa kanker serviks bisa dicegah dan TBC bisa disembuhkan, asalkan ada pengetahuan dan kesadaran sejak dini.

Rangkaian dua hari yang padat di Jakarta dan Bandung Barat ini tentu bukan sekadar perjalanan formalitas. Bagi Prodi Sarjana Sains Biomedis FK UM Metro, pulang dari kegiatan ini berarti membawa oleh-oleh yang sangat berharga: pembaruan kurikulum berbasis capaian nasional yang siap diterapkan di kampus, kejelasan arah karier lulusan lewat advokasi STR, serta jaringan kolaborasi (networking) yang semakin solid dengan berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

Langkah strategis ini menjadi bukti bahwa meski berada di daerah, kualitas dan visi pendidikan yang diusung oleh FK UM Metro selalu berwawasan nasional, siap mencetak sarjana-sarjana biomedis yang tidak hanya cerdas di meja laboratorium, tetapi juga berhati emas bagi kemanusiaan. (RJ/Admin FK)